Postingan

Resensi Novel "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata

“Tapi pasti pengalaman selalu menunjukan bahwa hidup dengan usaha adalah mata yang ditutup untuk memilih buah-buahan dalam keranjang. Buah apapun yang didapat kita tetap mendapat buah. Sedangkan hidup tanpa usaha adalah mata yang ditutup untuk mencari kucing hitam di dalam kamar gelap dan kucingnya tidak ada” (dalam benak Ikal yang sedang memikirkan nasib temannya Mahar) Ajaib, bila anda berpikir bagaimana sebuah karya sastra bisa mengubah pola pikir seseorang melihat dirinya, dari yang awalnya mengeluh, tanpa gairah hidup, dan memberikanmu semangat yang luar biasa dahsyatnya, energi yang datang dari setiap kata yang dirangkai dalam kalimat, kalimat yang menjadi paragraf, dan paragraf yang menjadi bagian dari bab, semuanya tersusun indah untuk menceritakan kisah hidup yang memilukan, dramatis, ironis sekaligus menggelikan, menyenangakan dan menginspirasi dari sebuah kelompok yang terdiri dari sebelas anak yaitu Ikal, Lintang, Mahar, Taprani, Harun, Borek, Kucai, Syahdan, A Kiong, dan...

Peran Mahasiswa dalam Membumikan Ilmu Sosiologi di Indonesia

Ilmu sosiologi adalah disiplin ilmu terapan yang masih sangat muda jika dibandingkan dengan ilmu sosial lainnya, apalagi jika dibandingkan dengan ilmu alam. Oleh karena itu, ilmu yang lahir pada abad ke-18 ini eksistensinya di masyarakat terutama di Indonesia masih belum cukup maksimal. Belum lagi bentuk kebermanfaatannya yang dirasa bagi sebagian orang tidak terlalu vital jika dibandingkan dengan ilmu lain misalnya ilmu ekonomi maupun kedokteran. Hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya masyarakat kita yang tidak mengetahui dan bahkan memandang sebelah mata ilmu sosiologi. Bukti di lapangan juga membuktikan bahwa sosiologi belum mendapat tempat yang cukup pasti dan luas dalam bidang lapangan pekerjaan jika dibandingkan dengan ilmu lainnya. Sudah menjadi kewajiban bagi mahasiswa sosiologi untuk mengangkat citra dari disiplin ilmu sosiologi ini, terutama di Indonesia. Untuk mengkaji itu semua, Saya mencoba untuk kembali melihat sejarah sosiologi itu sendiri di Eropa, kemudian mencoba m...

Pembangunan sebagai Sebuah Kebebasan

Dalam bukunya yang mutakhir, Prof. Amartya Sen Master di Trinity College Cambridge University, ekonom Asia pertama penerima Hadiah Nobel dalam Ekonomi (1998), menyajikan secara meyakinkan konsep kebebasan pembangunan. Beliau berpendapat bahwa kebebasan merupakan tujuan utama pembangunan. Selain itu, menurut beliau pembangunan juga tidak hanya melulu pembangunan fisik semata, tetapi menyangkut pembangunan non-fisik lainnya.  Pandangan Prof. Amartya Sen ini jelas sangat kontras dengan pandangan konvensional pada umumnya, yang melihat pembangunan melulu sebagai pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), peningkatan pendapatan pribadi dan kemajuan teknologi atau modernisasi sosial. Pandangan Amartya Sen mengenai pembangunan, yakni sebagai kebebasan substantif mengharuskan berbagai sumber utama non kebebasan disingkirkan, yaitu kemiskinan, tirani, minimnya peluang ekonomi, dan kemiskinan sosial sistematis, intoleransi dan campur tangan rezim represif yang  berlebihan. Tidak memilikin...